Sunday, 7 June 2015

Merahasiakan Pengalaman Ilahiyah

“Rahasiakan Allah dalam hatimu, sebagaimana engkau merahasiakan cacat-cacatmu.” – Syeikh Abdul Jalil Mustaqim Qs
Ibnu Athaillah mengatakan, “Orang yang belum sampai dan orang yang sudah sampai, tidak lain kecuali hanya sebagai derajat dalam memanifestasikan hakikat melalui ketidakmampuan dirinya. Siapa yang sampai ke suatu maqom, ia akan tak berdaya untuk sampai ke
maqom itu, maka sesungguhnya ia telah sampai (wushul pada maqom tersebut).” Namun harus ditegaskan, yang dimaksud dengan “Tidak mampu” yaitu, manakala muncul setelah ia fana’ secara hakiki, bukan “tak mampu” secara metaforal (majazy), karena orang yang bodoh itu, ketidakmampuannya juga tampak secara nyata, namun orang yang ‘arif ketidakmampuannya muncul secara Jalaly-Rahmany (maksudnya ketidakberdayaannya muncul akibat memandang Sifat Keagungan dan RahmaniyahNya). Berbeda jika ia tidak mampu memang karena kebodohannya.
Maka bisa ditampakkan, bahwa:
Orang bodoh ketika bergerak dan terjadi, ia terjerembab dalam kepentingan selera dirinya, sedangkan orang ‘arif tidak bergerak kecuali untuk memenuhi hak kewajibannya.
Orang bodoh selalu berkhayal, orang ‘arif selalu meraih kefahaman.
Orang bodoh selalu mencari ilmu, orang ‘arif selalu mencari Sang Empunya Ilmu.
Orang bodoh mengikuti gambaran yang tampak secara lahiriyah. Orang ‘arif memejamkan mata lahiriyahnya dan yang tampak pandangan ruihani maknawinya.
Para murid dalam perjalanan ruhaninya, diharuskan menyimpan rahasia ilmu, amal, hal, dan hasrat luhurnya. Jika ia mempublikasi pengalaman ruhaninya, membuat keikhlasannya semakin minim. Apalagi jika ia mengungkapkan keikhlasannya, itu menunjukkan betapa sedikitnya sikap benar bersama Tuhannya.